Diksi:
Kata diksi (diction) terkadang diartikan sebagai mengeja, atau cara berbicara dengan keras, tetapi ini hanyalah arti keduanya. Arti sebenarnya berasal dari kata dictionary (kamus) atau 'pemilihan kata-kata untuk mengekspresikan ide-ide dengan tepat dan selaras. Mengerti diksi berarti mengerti karakter.
Denotasi:
Walaupun besar pengaruh yang dimiliki penulis untuk memberikan nilai emosi kepada kata-kata, kata-kata tetap memiliki arti yang paling harafiah yang harus dianggap penting. Arti dan definisi kata berdasar kamus disebut Denotasi, sementara nilai-nilai emosinya disebut Konotasi.
Arti dari sebuah kata bukanlah sesuatu yang statis karena banyak arti kata di dalam kalimat dapat berubah sesuai dengan konteksnya. Memproduksi sebuah naskah yang umurnya sudah sepuluh tahun saja membutuhkan penyelidikan arti kata-kata dan ekspresinya yang mungkin sudah berubah. Kita harus yakin bahwa arti yang kita sudah anggap benar sesuai dengan arti yang dimaksud oleh si penulis naskah.
Konotasi:
Arti konotasi kata-kata sangat banyak variabelnya, tidak seperti denotasi, dimana dapat ditentukan dengan jelas melalui penggunaan yang sudah lazim. Untuk konotasi, kita harus melihat konteksnya (pengertian yang diperoleh berdasarkan hubungan kata-kata dalam kalimat) untuk dapat menentukan kemungkinan konotasi mana yang cocok dari sebuah kata. Penulis handal akan memilih kata yang paling tepat untuk dapat menggunakan tidak hanya satu konotasi saja sehingga memberi pengaruh emosional yang bertingkat-tingkat.
Sama seperti kehidupan sehari-hari, karakter menggunakan konotasi sebagai satu cara untuk menunjukkan sikap & perasaan mereka kepada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, konotasi sangat berhubungan dengan kehidupan emosional karakter. Jika Blance DuBois dalam A Streetcar Named Desire (Pusaran) karya Tennessee Williams menggambarkan seseorang dengan 'Rakus' suka menggerogoti, dan meraksasai(kaku) (Swilling and gnawing and hulking) kita mengerti tidak hanya sikapnya pada orang itu, tetapi juga menunjukkan pribadinya sendiri karena cara dia mengekspresikannya. Sensasi tubuh yang dinyatakan oleh kata-kata itu menuntut ekspresi fisik dari si aktor sehingga kualitas kata 'rakus, suka menggerogoti, dan meraksasai (kaku) akan meningkatkan ekspresi emosionalnya. Kalau kita mengerti sikap dan perasaan karakter yang ditunjukkan oleh konotasi kata, berarti kita menemukan sumber bentuk fisik dari kehidupan emosionalnya.
Parafrase
Parafrase adalah latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata si aktor sendiri. Parafrase dilakukan dengan cara menterjemahkan ke bahasanya sendiri kata demi kata, kalimat demi kalimat seakan-akan kata-kata yang diberikan si penulis adalah bahasa asing. Tentu saja pengaruh emosional, konotasi, suasana hati, dan kekayaan puitisnya akan hilang, tetapi dengan parafrase itu sendiri si aktor menghargai kekayaan bahasa si penulis dan setidak-tidaknya sudah melakukan proses penyelidikan yang tekun akan arti kata-kata yang diucapkannya. Parafrase biasanya lebih panjang dari bahasa penulisnya. Tujuannya adalah untuk membuat arti yang diimplikasikan menjadi lebih eksplisit (sangat jelas, terus terang, terbuka).
Dengan menggunakan dialog yang sedang anda latih, tulis parafrasenya menurut tingkatan di bawah ini:
1.menurut pengertian denotasi
2.menurut pengertian konotasi dan sikap emosional
3.parafrase untuk mengekspresikan benih ide di belakang setiap kalimat
4.parafrase untuk mengekspresikan arti subtekstual atau arus bawah atau perasaan yang dibawah oleh dialog atau adegan.
Sintaksis
Sintaksis adalah penataan kata-kata dengan tepat untuk menunjukkan hubungannya yang serasi dalam kalimat. Artinya, kalimat yang intelek lebih ditentukan oleh 'bentuk penataan' kalimat itu daripada arti setiap katanya.
Dalam musik, seorang pemain instrumental sering disarankan oleh gurunya untuk memainkan musik dan bukan nada-nadanya. Maksudnya adalah untuk mengerti bentuk dan sensasi dari seluruh frasa sebagai satu kesatuan unit dan bukan hanya suksesi dari nada-nadanya.
Yang harus dimengerti adalah bahwa dari pembentukan unit-unit pemikiran yang lebih besar, dari frasa-frasa, dari kalimat-kalimat, dan dari paragraf-paragraf lah, maksud lebih mudah dimengerti. ***
22 Agustus 2008
Tingkatan Penafsiran
Label: SkenarioDasar-dasar menganalisa naskah
Tujuan menganalisa naskah
Bahasa adalah media sastra, sama seperti tanah liat adalah materi seorang pematung. Untuk dapat benar-benar mengerti naskah drama, aktor harus mempelajari kata-kata, yang adalah balok-balok pembangun naskah itu. Sebagai seorang aktor, analisa naskah yang dilakukannya tidak seperti cara seorang sastrawan yang menafsirkannya untuk kepentingan sastra, tetapi seorang aktor berusaha memecahkan masalah bagaimana menghidupkannya kembali di atas panggung atau di depan kamera.
Penulis naskah selalu memulai tulisannya dengan visi. Setiap karakter di naskah tersebut hidup dalam diri si penulis sebagai bagian dari seluruh mekanisme yang memberi ekspresi pada visi tersebut. Visi yang memberi fondasi pada kata-kata adalah sesuatu yang dapat dimengerti jika kita meraihnya ke dalam melalui kata-kata. Visi lebih mendasar daripada kata-kata. Visi adalah kekuatan yang menyokong kata-kata. Visi adalah embrio komunikasi.
Oleh karena visinya, seorang penulis naskah mempunyai arah untuk memilih dan mengkombinasikan sedemikian rupa, untuk menciptakan karakter-karakter dalam situasi-situasi mereka, dan memberikan struktur menurut gaya tertentu. Para aktor dapat meraih ke visi tersebut dengan menganalisa detail-detail ini, dengan cara memutarbalikkan proses rekonstruksi naskah tersebut. Pendekatan ini lebih berarti daripada menganalisanya secara naluri dan memberikan respon secara garis besarnya saja. Dalam produksi, sutradara akan memberikan bimbingan untuk melihat visi naskah melalui konsep produksinya. Begitu pula dengan si aktor, mengembangkan visi yang sejalan dengan konsep sutradara.
Banyak aktor yang hanya membaca naskah dengan menggunakan naluri saja, yang mana membuat mereka yakin bahwa hasilnya adalah visi dari naskah itu. Walaupun kita harus memberikan respon naluri kita kepada naskah, kita harus hati-hati membimbing dan membetulkan respon kita itu melalui penyelidikan yang mendetail isinya, karena jika tidak, kita tidak punya garansi apakah respon itu benar-benar respon terhadap naskah atau hanya perasaan-perasaan pribadi saja yang timbul dan digerakkan oleh naskah.
Naskah sebagai sebagai satu kesatuan yang utuh
Analisa naskah harus dilakukan secara keseluruhan. Karakter-karakter tidak diciptakan untuk dilihat secara individu, mereka diciptakan untuk tujuan tertentu sebagai bagian dari keseluruhan struktur. Hubungan mereka harus jelas menurut mekanisme struktur naskah itu jika hasilnya ingin benar. Karakter tidak dapat dimengerti jika kita tidak tahu bagaimana mereka menjadi bagian dari keseluruhan struktur.
Banyak aktor yang tidak pernah melihat melebihi karakter mereka sendiri. Mereka merasa dirinya penyambung lidah si karakter sehingga mengorbankan keseluruhan penafsiran naskah. Ini adalah egoisme yang mematikan usaha kerja sama yang diharapkan dari sebuah pertunjukan. Kita harus menghormati naskah sebagai satu keseluruhan bukan hanya sebagian saja. ***
Memahami Sinopsis 2 (Untuk Skenario Film)
Hunting the Locations
Aspek yang juga penting saat membaca sinopsis, kita harus jeli melihat jenis, jumlah dan jarak dari satu lokasi ke lokasi lain, yang dibutuhkan untuk membangun cerita tersebut. Dalam sinopsis yang cukup rinci, kita akan bisa menemukan lokasi-lokasi utama tempat terjadinya sebuah adegan/scene.
Jenis lokasi dibedakan menjadi dua:
1.Exterior
2.Interior
Catatlah jumlah exterior yang dibutuhkan, juga berapa banyak lokasi interiornya. Selanjutnya kita bisa melakukan diskusi dengan art departemen untuk memutuskan apakah jenis lokasi interior memerlukan set builder/ set dresser ataukah tidak. Hal ini sangat penting untuk memudahkan kalkulasi budget produksi yang berhubungan dengan lokasi, set maupun properti. Membuat estimasi Jarak lokasi sama dengan membuat perhitungan waktu travelling dari satu lokasi ke lokasi lain, bongkar pasang set, dan menghitung bea produksi transportasi yang akan dikeluarkan.
Night and Day Transitions
Dalam sinopsis yang detail, kita juga akan menemukan waktu/jam dimana sebuah kejadian/adegan/scene berlangsung. Catatlah waktu-waktu (Pagi/siang/sore/malam) tersebut untuk memudahkan pencatatan dan memastikan apakah produksi pada waktu tersebut memerlukan bantuan Lighting Departement yang memadai. Selain itu waktu-waktu yang telah tercatat tersebut untuk memudahkan koordinasi time schedule dengan seluruh pendukung produksi mulai dari crews hingga talents.
Characters appearing in scenes
Seringkali tim produksi juga membutuhkan informasi, berapakah jumlah karakter yang akan muncul dalam sebuah scene. Karenanya kita juga harus bisa melihat dan membuat catatan nama & jumlah karakter yang muncul tiap scene. Tentu saja ini akan sangat memudahkan tim produksi mengkalkulasi kebutuhan wardrobe, berapa lama waktu yang dibutuhkan make-up artist untuk merias para talent, hingga soal F&B yang harus disiapkan oleh seorang production unit.
Dengan membedah sinopsis seperti diatas, setidaknya kita akan dapat menyusun draft-draft awal sebuah desain produksi. Tentunya, draft ini akan berkembang, berubah menyesuaikan hasil diskusi dengan departemen-departemen lain. ***
Memahami sinopsis 1 (umum)
Sinopsis adalah ringkasan dari sebuah rangkaian cerita panjang yang ada dalam naskah novel, naskah drama panggung maupun naskah film.
Sinopsis yang baik selalu memberikan deskripsi yang jelas, runtut dan rinci tentang aspek-aspek yang akan dibangun dalam sebuah cerita.
Karena itu, sebagai orang yang berkecimpung dalam wilayah produksi sebuah film, kita harus bisa melihat dan menemukan hal- hal penting untuk bisa dijadikan dasar desain dalam sebuah produksi film.
Feeling the Theme, Awaring the Topic
Pertama kali yang harus bisa kita temukan dan sadari adalah topik utama dari rangkaian cerita dalam sebuah sinopsis, setelah itu kita harus melangkah lebih dalam dengan merasakan tema cerita tersebut. Hal ini perlu untuk merangsang visual references dalam desain produksi sebuah film.
Counting the Timeline
Setelah persoalan tema atau topik cerita bisa kita sadari dan rasakan, maka tahap berikutnya adalah kita harus mengamati Timeline atau cara bertutur alur cerita tersebut. Apakah mengikuti kaidah kronologis waktu, misalnya penceritaan tokoh tersebut dari masa kecil hingga masa sekarang. Ataukah menggunakan alur balik (flash back), ataukah acak (Random). Hal ini penting untuk pencatatan elemen-elemen apa saja yang akan disiapkan untuk menyesuaikan kebutuhan talent masa kecil/masa tua, properties yang digunakan saat masa silam, set dan lokasi, color references dll.
Finding Character
Dalam sebuah sinopsis, pertama yang harus kita catat adalah nama-nama Karakter dalam cerita tersebut. Kemudian kita baru melihat intensitas hubungan antar karakter/tokoh yang ada dalam cerita untuk menentukan Figur Pemeran Utama (Main Character), Pemeran Pembantu Utama ( Main Supporting Character), Pemeran Pembantu (Supporting Character).
Sehingga kita bisa menyusun Character list, seperti di bawah ini:
Pemeran Utama Pria
01.
02.
Pemeran Utama Wanita
01.
02.
Pemeran pembantu utama pria
01.
02.
03.
Pemeran pembantu utama wanita
01.
02.
03.
Pemeran pembantu pria
01.
02.
03.
04.
05.
Pemeran pembantu wanita
01.
02.
03.
04.
05.
Figuran
01.
02.
03.
04.
05.
Extrass
01.
02.
03.
04.
05.
Jika sudah kita catat siapa saja dan berapa jumlah karakter yang dibutuhkan dalam sebuah cerita, maka kita bisa menyusun draft produksi berikutnya. Misalkan merancang dan menentukan kostum, make-up, asesoris dll. ***